Komoditas.Co.Id

Berita Ekonomi dan Komoditi Pilihan

Petani Frustasi, Dilarang Tebang Karet dan Kakao Petani Frustasi, Dilarang Tebang Karet dan Kakao
Komoditas.co.id –  Anjloknya harga jual karet dan kakao sejak beberapa waktu terakhir, yang menyebabkan melesunya semangat petani karet untuk mengurus kebunnya. Sebagian petani berkeinginan... Petani Frustasi, Dilarang Tebang Karet dan Kakao

Komoditas.co.id –  Anjloknya harga jual karet dan kakao sejak beberapa waktu terakhir, yang menyebabkan melesunya semangat petani karet untuk mengurus kebunnya. Sebagian petani berkeinginan menebang kebun karetnya.

Untuk mengatisipasinya, Walikota Sawahlunto mengeluarkan imbauan resmi yang melarang penebangan pohon karet dan kakao.

Menurut Hilmet, Kepala Dinas Pertanian Dan Kehutanan kota Sawahlunto, anjloknya harga karet telah membuat petani frustasi hingga muncul  aksi menebang pohon karet dan kakao yang telah ditanam.

Menyikapi masalah yang dihadapi petani, Hilmet menjelaskan, bahwa selain mengeluarkan larangan penebangan pohon karet dan kakao, pihaknya tengah berusaha mencarikan solusi, salah satunya dengan mengajak petani menjual karetnya melalui Asosiasi Petani Karet Kota Sawahlunto.

Asosiasi  telah menjalin MOU dengan pabrik karet di Padang, sehingga harga yang diberikan pabrik kepada Asosiasi jauh lebih baik, namun dengan syarat karet petani harus memenuhi kualitas.
“Pemerintah juga berencana akan meningkatkan penguatan kelembagaan Asosiasi Karet dan Kakao yang telah banyak membantu kesejahteraan petani,” kata Hilmet.

Sementara Hasanurais Ketua Asosiasi Petani Karet Kota Sawahlunto mengakui bahwa pihaknya menemukan aksi penebangan pohon karet dan coklat oleh masyarakat petani di beberapa desa.

“Mereka menebang dengan maksud mengganti jenis tanaman perkebunan. Aksi ini telah kami laporkan ke Dinas terkait dan ke DPRD, agar Pemerintah dapat mencegah dan mencarikan solusinya” ujar Hasanurais.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Karet ini sangat disayangkan bila penebangan ini terus terjadi. Ia berharap masyarakat petani tidak putus asa, karena harga perkebunan fluktuatif.

“Jika saat ini anjlok, tetap terbuka harapan besok harga akan kembali bergerak naik,” katanya.

Lebih lanjut Hasanurais mengakui bahwa saat ini memang harga karet sedang lesu, bahkan sempat mencapai Rp 6.000/kg jika langsung menjual ke pabrik. Apalagi jika petani menjual ke toke, pasti harga jual akan jauh lebih rendah.

Di tengah keprihatinan ini, ia mengajak petani untuk bergabung dengan Asosiasi.  Karena  melalui Asosiasi,  karet petani dibeli dengan harga yang lebih baik.

Saat ini kami bisa membayar karet ke ladang petani dengan harga yang sama dengan harga jual ke pabrik yaitu Rp 6000/kg. Karena kami yakin kedepan harga akan kembali bergerak naik.

Biasanya kami melakukan pemotongan Rp 1.000/kg yang dibebankan kepada  petani sebagai biaya transportasi. Namun karena harga sedang pada level terendah, kami tidak melakukan pemotongan. Untuk mensiasati biaya transportasi, kami akan melakukan penjualan ke pabrik, setelah harga bergerak naik.

Komoditas |

  • Johne98

    1 April 2016 #1 Author

    But a smiling visitor here to share the love , btw outstanding layout. gfedcbebaefb

    Balas

  • Johnk85

    1 April 2016 #2 Author

    Nice blog here! Also your website loads up fast! What host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my site loaded up as quickly as yours lol cddadgcfdadb

    Balas

  • Smithb63

    1 April 2016 #3 Author

    I loved your blog article. Really Cool. gefkbbddcbbdcckk

    Balas

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *