Komoditas.Co.Id

Berita Ekonomi dan Komoditi Pilihan

ABM Investama (ABM) Makin Agresif Produksi Batubara ABM Investama (ABM) Makin Agresif Produksi Batubara
JAKARTA – Untuk memperkuat bisnis tambang dan penjualan batubara, PT ABM Investama Tbk (ABM) bakal lebih agresif mendorong produksi dari tambang di Meulaboh, Aceh.... ABM Investama (ABM) Makin Agresif Produksi Batubara

JAKARTA – Untuk memperkuat bisnis tambang dan penjualan batubara, PT ABM Investama Tbk (ABM) bakal lebih agresif mendorong produksi dari tambang di Meulaboh, Aceh. Setelah tahun lalu produksi batubara dari Aceh berhasil digenjot naik 479,35% menjadi 2,60 juta ton, tahun ini produksinya akan kembali dikerek hingga 5 juta ton.

“Target optimum kami di tahun 2019 nanti produksi dari tambang Aceh bisa mencapai 10 juta ton. Sehingga dari dua lokasi tambang di Aceh dan Kalimantan Selatan, ABM bisa memproduksi sekitar 15 juta ton batubara setahun,” jelas Adrian Erlangga, Direktur Keuangan ABM Investama, di Jakarta (28/5).

Adrian Erlangga mengatakan, sejak awal perusahaan telah melakukan investasi yang cukup besar untuk membangun infrastruktur tambang yang mumpuni di Meulaboh. Sehingga ketika ingin meningkatkan produksi di sana pada tahun depan, ABM tak perlu menambah modal lagi.

“Kami memiliki dua tambang yang letaknya bersebelahan di Meulaboh, Aceh. Pada 2015 mulai beroperasi, lalu pada 2017 pun telah berproduksi. Ketika produksi dinaikkan menjadi 10 juta ton di 2019, kita tidak butuh modal besar karena sudah terakumulasi di awal,” kata Adrian.

Tambang batubara di Aceh memiliki cadangan lebih dari 100 juta ton dengan kalori sebanyak 3400 kkal. Dengan lokasinya yang berdekatan dengan negara konsumen batubara seperti Tiongkok, India, Thailand, dan Myanmar, tambang batubara di Aceh ini menjadi sangat strategis.

“Permintaan batubara dari konsumen eksisting kami seperti Tiongkok, India, Thailand, dan Myanmar masih sangat besar. Berapa pun kita bisa produksi akan mereka ambil,” lanjut Adrian.

ABM pada tahun ini memutuskan kembali ke bisnis di bidang energi khususnya pertambangan dan perdagangan batubara. Sejalan dengan penerbitan Global Bond di tahun 2017 yang bertujuan untuk memperkuat struktur pendanaannya, ABM berencana untuk melakukan akuisisi tambang baru yang akan memperkuat bisnis inti, khususnya untuk meningkatkan volume produksi dan penjualan batubara.

Penguatan ABM di di bisnis batubara didukung berbagai faktor antara lain kebijakan Tiongkok sebagai produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia selama tahun buku 2017 mengurangi produksi batubara domestiknya. Sementara di level domestik, konsumsi batubara terus meningkat sejalan dengan beroperasinya sejumlah pembangkit listrik baru berbasis batubara.

Pada tahun ini juga ABM memperkuat posisinya sebagai supply chain batubara melalui integrasi dan sinergi anak usahanya secara end-to-end. Sinergi ini melibatkan anak usaha di bidang kontraktor tambang, logistik, maintenance services, hingga trading batubara.

Dengan model bisnis yang dimiliki, ABM terbukti berhasil mengembangkan dan mengelola tambang secara efisien. Contohnya adalah pengelolaan tambang batubara di Kalimantan yang berkapasitas produksi sekitar 5 juta ton per tahun menghasilkan EBITDA sebesar US$ 108 juta.

Terkait pemenuhan kebutuhan batubara untuk listrik dalam negeri (domestic market obligation/DMO) sebanyak 25%, Adrian menjelaskan, tambang di Aceh sulit untuk memenuhinya. Karena itu dia berharap agar klausul exception diberikan untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan nasional.

“Kami memiliki dua tambang. Satu tambang di Kalimantan Selatan bisa banget main ke pasar domestik karena kalorinya 4.200 kcal, tetapi satu tambang kami di Aceh di bawah itu. Karena itu kami berharap adanya exception dari Pemerintah,” jelas Adrian.

Terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai kewajiban DMO 25% bagi para seluruh perusahaan tambang di Indonesia sulit untuk dilaksanakan. “Secara teknis kewajiban DMO 25% tidak mudah dilaksanakan karena banyak perusahaan tambang yang produksinya tidak terserap dalam negeri,” kata Hendra.

Pasalnya, kebutuhan pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan batubara harus memiliki kandungan kalori di atas 4.000 kcal. Sementara tak seluruhnya perusahaan tambang batubara memproduksi batubara dengan kandungan kalori 4.000 kcal atau di atasnya.

Meski begitu, Hendra melanjutkan, karena aturan DMO 25% telah diberlakukan dengan diturunkannya Peraturan Pemerintah, APBI sebagai kumpulan pelaku usaha pun berusaha untuk memenuhi aturan tersebut.

Salah satu cara mengatasi kendala tersebut, pemerintah berencana untuk menerapkan sistem transfer kuota batubara. Pemerintah pun berharap agar APBI sebagai asosiasi yang mewadahi seluruh perusahaan batubara nasional dapat berperan memfasilitasi skema tersebut.

“Hingga saat ini skema transfer kuota masih kami bahas dengan Pemerintah. Hal ini juga tidak mudah karena adanya perbedaan kepentingan dari para pelaku usaha,” katanya.

Mengenai cara lainnya yakni Klausul Pengecualian (Exception) bagi pelaku usaha tambang batubara yang sulit memenuhi DMO karena produksi yang tak terserap, menurut Hendra, hal itu adalah ranah kewenangan Pemerintah. “Jika sistem transfer kuota diberikan, akan sulit bagi Pemerintah untuk memberikan klausul exception,” ujarnya.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *