Komoditas.Co.Id

Berita Ekonomi dan Komoditi Pilihan

Wawancara KH Ahmad Ishomuddin: “Tidak ada gunanya bernegara kalau setiap orang menghukumi secara sendiri-sendiri” Wawancara KH Ahmad Ishomuddin: “Tidak ada gunanya bernegara kalau setiap orang menghukumi secara sendiri-sendiri”
Rasa kebangsaan saat ini tengah diuji. Ada begitu banyak ketidakpercayaan terhadap sesama anak bangsa. Belum lagi ujaran kebencian begitu mudah ditemukan. Bagaimana Indonesia di... Wawancara KH Ahmad Ishomuddin: “Tidak ada gunanya bernegara kalau setiap orang menghukumi secara sendiri-sendiri”

Rasa kebangsaan saat ini tengah diuji. Ada begitu banyak ketidakpercayaan terhadap sesama anak bangsa. Belum lagi ujaran kebencian begitu mudah ditemukan. Bagaimana Indonesia di masa depan? Berikut wawancara jurnalis Komoditas.co.id, Epung Saepudin dengan pemikir keagamaan Nahdhatul Ulama KH Ahmad Ishomuddin, belum lama ini.

Belakangan,  rasa saling percaya di tengah hiruk pikuk Pilkada semakin tergerus, terutama di Jakarta. Apa pandangan Anda?
Rasa kebangsaan saat ini memang menurun. Setiap orang, memikirkan nasibnya sendiri . Setiap orang memikirkan kesuksesan nasibnya sendiri, tidak memikirkan orang lain. Saya kira, rasa berbangsa itu memang kian menipis. Individualis. Ketika seseorang ingin meraih tujuannya, orang yang memiliki individualisme ini, tidak peduli kepada apakah upaya meraih kesuksesan dirinya itu, menghantam atau merugikan orang lain atau tidak.

Padahal hidup bersama, ini, kan, harus mengerti apa kewajiban dan hak dirinya terhadap orang lain. Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada meraih kesuksesan diri, ini yang saya kira makin menipis.

Ada begitu banyak hoax bertebaran, kebencian di Pilkada Jakarta?
Menyangkut Pilkada Jakarta, saya kan dari awal mengatakan, agar semua berjalan dengan fair saja, maju, bersaing, dengan persaingan sehat. Tidak perlu melakukan black campaign terhadap orang lain apalagi menyangkut hal-hal berbau SARA. Kan, setiap, warga negara memiliki hak politik untuk dipilih dan memilih.

Di sana hati nurani bebas menentukan pilihan. Kriteria juga menjadi sangat penting, mengenai paling layak dipilih untuk memimpin saya kira masyarakat Jakarta sudah sangat paham. Sudah memahami. Jadi tidak perlu, masing-masing merasa khawatir berlebihan, terhadap majunya calon lain. Sehingga, dia tidak perlu menyerang orang lain, dengan black campaign sehingga menjatuhkan orang lain, martabat, apalagi menyebar fitnah, berita hoax.

Tidak boleh ada kekhawatiran berlebihan terhadap kelompok lain?

Jangan ada itu, persaingan harus sah dan harus sehat. Dalam Islam sendiri kan sudah dikatakan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Yang saya maksud, misalnya dalam konteks Pilkada, sebaiknya setiap pasangan dan tim, adu kualitas pada visi program dan fokus cari solusi, atas masyarakat DKI Jakarta, bukan politik busuk saling memfitnah, memakai media dengan tidak baik, money politik, saya kira tidak dibenarkan.

Aksi-aksi itu digerakkan kelompok ekstirm, bagaimana NU melihat tren ini?
NU sendiri kan tidak dalam posisi menghalangi seseorang atau mendukung seseorang di dalam menentukan politiknya. Tetapi NU lebih ke politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik etis. Jadi, lebih mengharapkan semua orang bersifat moderat, tidak memaksakan kehendak. Kalau suatu urusan sudah diserahkan ke pihak berwajib misalnya, ya tinggal pasrahkan saja, apa keputusan pihak berwajib, diikuti. Tidak perlu memaksa pihak berwajib, dengan kekerasan dan sebagainya, kita ini muslim yang anti kekerasan.

Jadi, kelompok anti Ahok harus menghormati proses?
Jangan semua setiap warga negara negara menjadi hakim atas orang lain. Tidak ada gunanya bernegara, kalau setiap orang, menghukumi orang, secara sendiri-sendiri. Serahkan kepada pihak berwajib. Biar pihak berwajib memutuskan dengan independen tanpa ada tekanan dari siapa pun, tidak perlu melakukan tekanan tekanan kepada pihak berwenang, melakukan intervensi . Mereka, kan, meminta Presiden Jokowi untuk mengintervensi atas kasus ini. Sementara mereka juga melakukannya, kan, tidak baik. Saya kira, penegakan keadilan, harus berlaku untuk siapa pun, di negara ini.

Terkait pelaporan Habib Rizieq oleh sekelompok mahasiswa yang dinilai melecehkan agama, bagaimana penilaiannya?
Saya kira, setiap orang memang tidak boleh melanggar hak orang lain. Itu kuncinya. Jangan salah menghinakan, karena persoalan agama persoalan agama, persoalan sensitif. Boleh mengajarkan Islam, tetapi tanpa perlu mengantam agama lain, kan begitu. Saya kira seperti itu, sehingga masyarakat pun tidak dibalut pikirannya dengan saling dendam, saling melaporkan. Jika begitu, apa yang terjadi, ya perpecahan, saling dendam. Kita tidak ingin orang yang berbeda dalam satu bangsa, terpecah belah . Sebaiknya saling memuji, saling memaafkan, jangan saling mencela atau saling menikam.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *